Kamis, 5 Maret 2026 | 10:54 WIB

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melkiades Laka Lena,

"Saya Siap Benahi Sistem Yang Merugikan Rakyat Kecil"

foto

 

www.transaktualonline.com

Manggarai timur– Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melkiades Laka Lena, tampak emosional menyoroti carut-marut data kemiskinan di wilayahnya yang belum efektif

tetesan air mata yang jatuh di pipinya, Melki menegaskan bahwa praktik manipulasi data untuk kepentingan politik harus segera diakhiri.

Ia menyatakan siap pasang badan dan memikul tanggung jawab penuh sebagai gubernur untuk membenahi sistem yang selama ini dinilai merugikan rakyat kecil.

“Udah ini harus saya ambil, saya pikul ini tanggung jawab gubernur. Sekali lagi saya ulangi lagi ya, besok kita akan rapat, saya akan putuskan model begitu tadi,” tegas Melki dengan nada bicara yang bergetar, sebagaimana media mengikuti dari akun facebook resminya, Sabtu 7 Februari 2026

Melki menyentil keras fenomena di lapangan di mana bantuan sosial seringkali dihambat hanya karena perbedaan pilihan politik dalam Pemilu maupun Pilkada.

Ia menilai, banyak warga yang benar-benar miskin justru tidak terdaftar dalam basis data hanya karena tidak mendukung oknum pejabat tertentu.

“Siapa main-main data kemiskinan ini, yang harusnya masuk data miskin tidak masuk hanya karena urusan politik. Kemarin tidak dukung kepala desa ini, tidak dukung caleg ini, tidak dukung bupati, gubernur, presiden, udah bullshit tutup itu semua lah,” ucapnya lantang.

Gubernur Melki meminta agar pendataan dilakukan secara jujur tanpa kepura-puraan,dab kemunafikan Menurutnya, kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menindas hak orang miskin.

“Yang miskin tulis dia miskin. Udahlah sudah cukup kita berpura-pura di republik ini, di NTT ini. Jangan karena kita pegang kuasa, orang miskin yang kemudian kita tahu tidak dukung kita di politik misalnya kita tidak kasih dia,” lanjutnya dengan getir.

Dalam pidatonya, Melki bahkan mengusulkan agar pelaku manipulasi data kemiskinan dijatuhi hukuman berat, setara dengan kejahatan kemanusiaan.

Ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk dituntut mati jika kesalahan tersebut ada pada dirinya sebagai pemimpin tertinggi di NTT.

“Ini jangan cuma untuk urusan bencana saja, pelaku kejahatan tuh dihukum tuntunan sampai tuntutan mati. Kalau memang itu salah gubernur, saya siap dituntut mati untuk urusan ini,” tegasnya sambil kembali menyeka air mata.

Melki menekankan pentingnya “pertobatan bersama” bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT, mulai dari Forkopimda hingga para bupati.

Ia berharap kejadian tragis yang menimpa warga berinisial YBR tidak terulang lagi hanya karena kelalaian birokrasi dan hilangnya kepedulian.

“Saya tahu hari ini orang lagi maki hancur gubernur, maki hancur bupati Ngada, maki hancur orang NTT. Kita terima itu sebagai sebuah tamparan keras,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Melki mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga karakter gotong royong dan solidaritas khas orang NTT.

“Kita boleh miskin materi, tapi saya yakin kita orang NTT ini tidak miskin kepedulian. Republik boleh menghukum kita sebagai daerah miskin. Sebagai gubernur, yang saya jaga kepedulian kita sebagai manusia,” pungkasnya.

Sumber FB Melkiades Laka Lena.

efri cundul/transaktualonline.com